PENDAHULUAN
Metode COBIT perlu diterapkan dalam pengelolaan
perusahaan agar penggunaan Teknologi Informasi (TI) sesuai dengan kebutuhan
perusahaan dan menghasilkan kinerja yang efisien dan efektif serta mencegah
atau meminimalisir adanya risiko terhadap penggunaan TI. Penggunaan dan
pengelolaan TI juga mempertimbangkan integrasi dimana perangkat keras,
perangkat lunak dan perangkat manusia membangun intergrasi.
Kemajuan teknologi informasi (TI) berkembang sangat
cepat, baik mengenai perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software).
Hampir semua perusahaan, baik skala kecil, menengah, dan besar saat ini
menggunakan TI dalam membantu mengelola perusahaan untuk mencapai tujuannya.
Dengan penggunaan TI, perusahaan akan mempertimbangkan pengeluaran investasi
dan pengendalian yang diterapkan berkaitan dengan penggunaan dan pengelolaan
TI, peningkatan sumber daya manusia (SDM), resiko terhadap penggunaan TI, serta
strategi dalam penggunaan TI untuk membantu dan mengatasi dalam lingkungan
internal (pesaing, pendatang baru, penyalur, pembeli) yang semakin beragam dan
kompetitif serta lingkungan eksternal (politik, ekonomi, sosial dan budaya,
teknologi, dan ekologi) yang dinamis dan kompleks serta selalu berubah.
Berkaitan
dengan pertimbangan tersebut, perlu adanya suatu metode untuk mengelola TI.
Dalam hal ini, metode COBIT (Control Objectives for Information and Related
Information) perlu diterapkan dalam pengelolaan perusahaan agar penggunaan
TI sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan menghasilkan kinerja yang efisien dan
efektif serta mencegah atau meminimalisir adanya resiko terhadap penggunaan TI.
Dalam hal ini maka penulis mencoba merancang penerapan COBIT pada PT KAI.
Dari gambaran metode COBIT tersebut dapat dilihat langkah pertama yang
dapat diambil yaitu :
1.
Perencanaan dan Organisasi
Perencanaan dan Organisasi. Untuk PT KAI perencanaan dan organisasi,
berikut kelemahan-kelemahan PT KAI:
Rencana strategik TI
Sudah ada rancangan rencana strategik TI nya tetapi
belum dapat diaplikasikan ke seluruh unit bisnis PT KAI
Arsitektur informasi
Belum semua instansi memiliki sistem informasi.
Sistem informasi yang sudah dikembangkan belum
terintegrasi.
Arah teknologi
Teknologi yang digunakan belum begitu canggih karena
sarana dan prasarana belum memadai
Organisasi TI dan hubungan
Sudah ada sebuah organisasi yang jelas dan secara
khusus menangani bidang IT, tetapi belum bekerja secara maksimal
Investasi TI
Belum adanya rancangan anggaran TI yang menyeluruh.
Alokasi anggaran yang terbatas.
Komunikasi tujuan dan arah manajemen
Masih lemahnya koordinasi penjadwalan kereta. Hal ini
menyebabkan
koordinasi lintas kereta kurang efektif.
Manage SDM
Penempatan SDM yang tidak tepat dan pembagian tugas
yang tidak jelas.
Pengelolaan sumber daya yang belum optimal baik di
tingkat teknis operasional
maupun manajerial.
Kesesuaian dengan external requirement
Kurangnya kesiapan dalam antisipasi (change of management)
baik terhadap
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi maupun
terhadap tuntutan
masyarakat (globalisasi).
- Penilaian resiko
Belum adanya manajemen resiko dan manajemen kualitas
yang baku dalam
pengembangan sistem pendukung perkeretaapian.
- Manajemen proyek
Manajemen proyek telah dilakukan namun belum optimal.
Desain sistem tidak didukung data yang akurat dan
lemahnya koordinasi.p
- Manajemen kualitas
Kurangnya tenaga ahli yang mampu mengawasi kualitas TI
dan rendahnya penghargaan
terhadap SDM TI terampil mempengaruhi kualitas sistem
dan pengembangan TI.
2. Akuisisi
dan Implementasi
Ditinjau dari tahapan akuisisi dan implementasi maka
dapat disimpulkan bahwa sebenarnya telah terdapat beberapa otomatisasI layanan
dan pengembangan sistem informasi. Namun pengembangan sistem tersebut masih
sporadis di beberapa instansi dan belum terintegrasi. Demikian pula dengan
manajemen waktu
dan perubahan, roadmap yang disusun baru mengakomodasi
perubahan jangka pendek (short time investment) dan belum mencakup
jangka menengah dan jangka panjang (long time investment).
Beberapa kelemahan yang ditemukan diantaranya :
- Identifikasi solusi otomatisasi
Belum semua sistem diotomatisasi.
Sebagian besar layanan masih menggunakan sistem
manual.
Sistem yang sudah dikembangkan belum terintegrasi.
- Pemeliharaan aplikasi perangkat lunak
Tidak terdapat alokasi anggaran yang memadai untuk
pemeliharaan.
Yang sering terjadi justru penggunaan perangkat lunak
tidak optimal
Pemeliharaan infrastruktur teknologi
Tidak didukung SDM TI yang handal dalam pemeliharaan
infrastruktur.
Alokasi anggaran pemeliharaan masih terbatas.
Jangka waktu pemakaian yang tidak jelas.
- Mengembangkan dan memelihara prosedur
Aturan yang berubah-ubah menjadikan prosedur turut
berubah pula.
Tidak ada korelasi dan koherensi antar setiap
perubahan sehingga menyulitkan
pengembangan dan pemeliharaan prosedur.
- Instalasi system
Instalasi sistem masih dalam tahap pengembangan ke
depan dan menyeluruh.
- Mengatur perubahan
Masih belum ada persiapan dari pihak PT KAI terhadap
perubahan. Perubahan ditentukan dari luar, tidak
direncanakan dari dalam.
Inisiatif internal masih rendah (konsekuensi birokrasi
yang lambat).
3.
Pelaksanaan dan Dukungan
Pengembangan IT pada PT KAI dilihat dari pelaksanaan
dan dukungan bagi keberlanjutannya, ternyata masih
dapat ditemukan beberapa kelemahan sebagai berikut :
- Mengidentifikasi dan mengatur service levels
Instalasi sistem yang tidak seragam dan belum
terintegrasi.
- Mengatur layanan pihak ke-3
Belum semua instansi membangun system layanan online
bagi masyarakat yang
dilayaninya. PT KAI pelayanannya hanya melalui telpon.
- Mengatur kinerja dan kapasitas
Tidak terdapat standarisasi antara kapasitas dan
aktualitas, potensi dan hasil kerja.
- Memastikan layanan berkelanjutan
Roadmap yang dibuat hanya dalam jangka waktu
pendek (short time), belum terdapat
roadmap jangka menengah dan jangka panjang (long
time).
Roadmap jangka pendek tidak intensif, dan
tidak terinci, sangat rentan terhadap
penyimpangan.
Acuan yang digunakan masih sangat umum sehingga sulit
dilaksanakan.
- Memastikan keamanan system
Belum adanya sistem yang menjamin keamanan data serta
pengelolaan data yang belum
optimal. Tanggung jawab terhadap keamanan data dan
transaksi yang tidak jelas, prosedur
dan mekanisme pengamanan data yang minimalis dan
sangat rentan terhadap serangan.
Tingkat vulnerability sistem masih relatif
tinggi.
- Identifikasi dan alokasi biaya/sumber daya
Alokasi anggaran yang tidak tepat sasaran, sangat
terbatas.
Alokasi anggaran pada masing-masing tingkat instansi
sangat beragam
- Edukasi dan pelatihan pengguna
Tidak adanya regenersi SDM sehingga SDM yang handal
masih sangat terbatas.
Kalaupun ada SDM yang cukup terampil, namun penempatan
dan psosisinya tidak tepat
sehingga tidak termanfaatkan kemampuannya secara
optimal serta rendahnya penghargaan
terhadap kinerja sumber daya manusia yang terampil.
Meskipun sudah ada usaha untuk mensosialisasikan
rencana-rencana , Sosialisasi dari
implementasi masih belum optimal sehingga nilai
manfaat dari perkembangan masih
belum dapat dirasakan.
- Mengatur konfigurasi
Prosentase penggunaan teknologi informasi di
masing-masing instansi yang masih kurang
serta tingkat utilitas dari implementasi belum
optimal.
- Mengatur masalah dan kejadian luar biasa
ID member masih dalam tahap perencanaan.
Belum terdapat rancangan dalam penanganan kejadian
luar biasa termasuk pertanggungjawabannya.
- Mengatur data
Data antara instansi belum terintegrasi.
Sudah menggunakan data storage yang memadai.
Manajemen back up data menggunakan
komputerisasi.
- Mengatur fasilitas
Perencanaan fasilitas dan pemeliharaan sudah
dilaksanakan, namun masih belum optimal begitu juga pemanfaatan dan
pemeliharaan fasilitas.
- Mengatur operasional
Tidak didukung dengan sistem yang jelas.
Peraturan yang ada masih bersifat umum dan multi
tafsir.
KESIMPULAN
Metode cobit perlu diterapkan pada PT KAI, hal ini
berdasarkan atas kelemahan-kelemahan yang telah diuraikan pada bagian
sebelumnya. Dengan diterapkannya metode cobit diharapkan kinerja PT KAI dapat
lebih baik dan terorganisir sehingga visi dan misi perusahaan dapat tercapai
dan juga dapat memberikan kontribusi bagi pengguna jasa kereta api, pemegang
saham dan pemerintah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar